Selasa, 26 Mei 2009

Risalah Manaqib (bagian pertama)


Maqom Kramat Situs Sejarah Tanjung Priuk / Pondok Dayung Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad Al Husaini Ass Syafi'i Sunni R.A. Keturunan dari Sayyidina Quthbil Irsyad Wa Ghowtsil Ibad Wal Bilad Al Imam Al Arif Billah Al Habib Abdulloh Bin Alwi Al Haddad R.A.



Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A. Dilahirkan di Ulu, Palembang, Sumatera Selatan pada tahun 1727 M. beliau belajar ilmu agama pada ayahandanya dan kakeknya.

Meningkat usia dewasa Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A hijrah ke Hadramaut (Yaman Selatan) meneruskan datuknya yaitu Al Imam Al Arif Billah Quthbil Irsyad Wa Ghowtsil Ibad Wal Bilad Al Habib Abdulloh Bin Alwi Al Haddad R.A. Beliau menetap di Hadramaut beberapa tahun lamanya, kemudian kembali ke tempat kelahirannya, Ulu, Palembang.

Pada Tahun 1756 M, dalam usia kurang lebih 29 tahun, Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A. Pergi ke pulau Jawa bersama Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad R.A dan 3 orang azami menggunakan perahu. Adapun maksud dan tujuannya ingin mensyiarkan Agama Islam dan sekaligus berziarah ke beberapa tempat diantaranya ke Sohib Luar Batang (Al Habib Husein Bin Abu Bakar Alaydrus R.A), ke Cirebon (Sunan Gunung Jati R.A) dan terus sampai Surabaya (Sunan Ampel R.A). Ketika hendak berangkat Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A diserang dan dikejar-kejar oleh tentara Belanda, akan tetapi tidak satu pun peluru dan senjata meriam yang mengenai perahunya, dan didalam satu serangan tersebut tidak terjadi apapun pada diri Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A dan yang lainnya sehingga tentara Belanda menghentikan serangannya.

Hal ini merupakan bukti karomah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A beliau adalah seorang Wali Allah yang mengabdikan hidupnya hanya mensyiarkan Agama Islam didalam menegakkan kalimat tauhid dari tanah kelahirannya hingga sampai keluar daerah (Sumatera, Jawa dan yang lainnya).

Dalam perjalanan kurang lebih 2 bulan lamanya, Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A singgah dibeberapa tempat. Ditengah perjalanan perahu yang ditumpangi dihantam badai dan ombak yang disertai hujan yang sangat deras, sehingga semua perbekalan yang ada dalam perahu terhambur dan terlempar. Yang tersisa hanyalah beras yang tercecer beberapa liter saja dan alat menanak nasi (priuk). Untuk menanak nasi saja Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A menggunakan kayu bakar dengan petak-petak perahu bahkan gagang dayung pun digunakannya. Ketika perbekalan habis jubah beliau dimasukkan kedalam priuk lalu beliau berdoa. Ketika priuk dibuka jadilah nasi dengan karomahnya Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A.

Beberapa hari kemudian datang lagi badai dan ombak yang lebih besar disertai hujan dan guntur yang menggelegar sehingga perahu pun tidak dapat lagi dikendalikan dan akhirnya perahu beliau terbalik. Kejadian tersebut menyebabkan 3 orang azami meninggal, sedangkan Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A dan Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad R.A selamat lalu dengan susah payah berenang untuk mencapai perahu yang dalam keadaan posisi terbalik. Kemudian diatas perahu itu Beliau dapat melaksanakan shalat berjamaah dilanjutkan berdoa.

Dalam kondisi yang sudah lemah, kurang lebih 10 hari lamanya tidak makan, sampai akhirnya beliau jatuh sakit dan tidak dapat tertolong lagi oleh Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad R.A sehingga wafatlah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A.

Sedangkan Al Arif Billah Al Habib Ali Al Hadda R.A masih dalam kondisi lemah duduk diatas perahu bersama Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A dan begitu juga priuk dan sebuah dayung yang masih ada itu terdorong oleh ombak dan diiringi ribuan ikan lumba-lumba hingga akhirnya sampai ke tepian pantai semenanjung.

Rupanya kejadian tersebut disaksikan oleh beberapa orang ditepi pantai sehingga ketika perahu mendarat di tepi pantai orang-orang tersebut langsung menolongnya. Diantara mereka itu ada beberapa pekerja (kuli) yang berasal dari banten. Dengan segera jenazah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A dimaqamkan, sebagai tanda batu nisan yang ditancapkan dibagian kepalanya adalah dayung yang sudah pendek dan dibagian kakinya ditancapkannya sebatang kayu kecil sebesar lengan anak kecil yang kemudian tumbuh menjadi pohon tanjung.

Adapun periuk nasinya ditaruh di sisi maqom. Konon ceritanya priuk tersebut lama-lama bergeser dan akhirnya sampai ke laut. Banyak orang bercerita bahwa 3 atau 4 tahun sekali priuk itu timbul di laut dengan ukuran sebesar rumah adanya. Di antara orang yang menyaksikan kejadian tersebut itu adalah seorang perwira TNI, Sersan Mayor Ismail yang saat itu sedang bertugas tengah malam.

Dengan kejadian tersebut maka banyak yang menamakan daerah tersebut dengan sebutan Tanjung Priuk dan ada juga yang menyebut Pondok Dayung yang artinya dayung pendek (bahasa sunda). Setelah beberapa bulan lamanya Al Arif Billah Habib Ali Al Haddad R.A menetap didaerah itu, lalu melanjutkan perjalanannya sampai ke pulau Sumbawa dan menetap disana selamanya.

sumber : Risalah Manaqib Maqam Keramat Situs Sejarah Tanjung Priuk / Pondok Dayung
Foto : Dok. Bintang Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar